TRENMEDIA.BIZ.ID - Industri penerbangan global kini tengah mengalami transformasi besar dalam sistem penentuan harga tiket melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dikutip dari Investor Daily, teknologi ini memungkinkan maskapai melakukan penyesuaian tarif secara instan dengan memproses puluhan variabel data sekaligus.
Perubahan sistem ini dilakukan untuk menggantikan metode analitis manual yang selama ini digunakan maskapai. Langkah tersebut diambil sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan pendapatan sekaligus mempersempit peluang konsumen mendapatkan tiket murah di rute populer.
Berbagai maskapai penerbangan dunia, seperti Delta Air Lines dan Virgin Atlantic, mulai mengadopsi teknologi ini secara masif. Keputusan tersebut didorong oleh lonjakan biaya operasional, mulai dari harga bahan bakar, kebutuhan perawatan pesawat, hingga beban tenaga kerja.
Algoritma AI bekerja dengan cara memantau tingkat kepadatan rute secara real-time. Sistem akan otomatis menahan penjualan kursi di bawah harga tertentu pada rute sibuk, sehingga tarif tiket cenderung mengalami kenaikan signifikan pada jam-jam favorit.
"Konsumen harus bersiap menghadapi maskapai yang makin cerdas menentukan harga. AI memungkinkan mereka menyesuaikan tarif, baik naik maupun turun, secara jauh lebih dinamis dan akurat," ujar Bryan Terry, Analis dari Alton Aviation Consultancy.
Di sisi lain, AI justru dapat menurunkan harga pada rute yang sepi atau jam penerbangan non-peak. Langkah ini dilakukan secara presisi agar maskapai dapat merangsang minat pemesanan dan memastikan kursi kosong tetap terisi.
"Menaikkan pendapatan jauh lebih mudah daripada memangkas biaya operasional di kondisi sekarang. AI adalah secret sauce terbaik bagi maskapai," tutur Bryan Terry.
Pengembangan perangkat lunak canggih ini dipelopori oleh perusahaan teknologi seperti Amadeus, PROS, hingga Fetcherr. Platform tersebut mampu merespons dinamika pasar secara langsung, termasuk ketika terjadi gangguan geopolitik atau fluktuasi harga minyak mentah dunia.
"Model kami menganalisis ratusan variabel. Platform ini langsung menyesuaikan penawaran begitu ada perubahan di pasar," jelas Uri Yerushalmi, Co-founder & Chief AI Officer Fetcherr.