TRENMEDIA.BIZ.ID - Proyek ambisius PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), anak usaha PT MRT Jakarta, tengah merampungkan pembangunan extended concourse di Stasiun MRT Bundaran HI. Fasilitas baru ini diproyeksikan menelan biaya sebesar Rp 200 miliar dan diharapkan selesai pada Mei 2027.
Proyek ini bertujuan untuk memperluas area layanan Stasiun MRT Bundaran HI secara signifikan, menambah luasan sekitar 4.439 meter persegi. Pembangunan ini merupakan bagian dari upaya MRT Jakarta untuk meningkatkan kenyamanan dan konektivitas bagi para pengguna transportasi publik.
"Selamat datang di area extended concourse, proyek yang diinisiasi oleh MRT Jakarta melalui anak usahanya PT Integrasi Transit Jakarta untuk memperluas area layanan dari Stasiun Bundaran HI seluas 4.439 meter persegi," ujar Direktur Utama PT ITJ, Yulham Ferdiansyah Roestam, saat sesi MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta pada Rabu (19/8/2026).
Lokasi extended concourse ini strategis, berada tepat di bawah Halte Transjakarta Bundaran HI. Nantinya, area ini akan terhubung langsung dengan Stasiun MRT Bundaran HI, menciptakan simpul transportasi yang terintegrasi.
Terdapat dua akses baru yang dirancang dalam area extended concourse ini. Akses sisi barat akan memberikan kemudahan akses langsung menuju Plaza Indonesia dan Grand Hyatt, sementara akses sisi timur akan terhubung dengan Wisma Nusantara dan Hotel Pullman.
Area ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur transit, tetapi juga disiapkan sebagai ruang multifungsi dan area ritel. Tujuannya adalah untuk mendukung mobilitas penumpang sekaligus menyediakan berbagai kegiatan pendukung bagi para pengguna.
"Direncakan selesai (extended concourse Stasiun MRT Bundaran HI) di bulan Mei 2027 untuk diresmikan Pak Gubernur (Pramono Anung) di posisi bulan Juni 2027 menyambut Jakarta lima abad," jelas Ferdiansyah.
Progres pembangunan extended concourse hingga Juli 2026 telah mencapai 21,46%. PT ITJ menargetkan peningkatan progres menjadi 24,80% pada bulan Agustus 2026.
Pembangunan extended concourse Bundaran HI ini dibiayai melalui kontribusi Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dengan nilai total Rp 200 miliar, termasuk pajak. Sekitar Rp 150 miliar dialokasikan untuk kebutuhan konstruksi, sementara sisanya untuk konsultan perencana dan pengawas.
