TRENMEDIA.BIZ.ID - Dikutip dari Investortrust.id, jutaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) saat ini tersebar di berbagai belahan dunia demi memperbaiki taraf hidup keluarga di Tanah Air. Meski secara fisik terpisah ribuan kilometer, mereka tetap menjadi pilar penting bagi ekonomi nasional melalui aliran remitansi yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.
Berdasarkan data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) per Agustus 2026, terdapat estimasi 4,9 juta pekerja migran yang tersebar secara global. Total remitansi yang dihasilkan mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp288 triliun, yang menjadi bukti nyata betapa krusialnya kontribusi mereka bagi stabilitas ekonomi keluarga di Indonesia.
Namun, pemerintah menyadari bahwa kuantitas jumlah pekerja bukanlah satu-satunya indikator keberhasilan. Tantangan utama Indonesia saat ini adalah meningkatkan kualitas migrasi agar tenaga kerja nasional mampu bertransformasi dari sekadar pekerja berpendapatan rendah menjadi tenaga profesional dan pengusaha mandiri di luar negeri.
"Ketika rasa rindu datang begitu kuat, saya terkadang mengambil pakaian Yuni yang masih tersimpan di rumah sebagai cara sederhana untuk memperpendek jarak antara Pati dan Taiwan," ujar Suyati saat menceritakan kerinduannya terhadap sang anak dalam acara di New Taipei City, 23 Agustus 2026.
Kisah Yuni Lestari, seorang pengasuh di Taiwan, menjadi gambaran nyata paradoks kehidupan para pahlawan devisa yang harus merelakan waktu berharga bersama keluarga. Momen mengharukan terjadi saat sang ibu, Suyati, dihadirkan secara kejutan di atas panggung di New Taipei City dalam program Tali Kasih “Teman Seperjuangan BRI”.
"Hampir satu dekade kerinduan runtuh dalam sebuah pelukan ketika saya bertemu kembali dengan ibu saya yang tiba-tiba muncul di hadapan saya," ujar Yuni Lestari saat menceritakan momen pertemuan emosionalnya di Taiwan.
Keberhasilan transformasi ekonomi migran juga ditunjukkan oleh Sri Purwati, yang kini sukses mengelola empat cabang Kedai Sri Rahayu di Taipei. Sri membuktikan bahwa pekerja migran dapat naik kelas dari seorang pengasuh anak menjadi pemilik bisnis yang mampu menyerap produk-produk asli Indonesia untuk pasar mancanegara.
"Semakin lama saya tinggal di Taiwan, Indonesia justru semakin besar hadir dalam kehidupan saya melalui restoran yang menjual masakan Nusantara dan bumbu-bumbu yang didatangkan langsung dari Tanah Air," ujar Sri Purwati mengenai perjalanan bisnisnya di Taiwan.
Indonesia ke depan harus fokus menjadi eksportir kompetensi melalui pendidikan vokasi dan penguasaan bahasa asing yang sesuai kebutuhan pasar dunia. Dengan persiapan yang matang sejak di dalam negeri, tenaga kerja Indonesia diharapkan mampu mengisi lowongan pekerjaan berpendapatan tinggi di negara maju seperti Jepang, Jerman, hingga Australia.
