TRENMEDIA.BIZ.ID - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tengah memperkuat transformasi digital di Asia Timur dengan menerapkan infrastruktur perbankan berbasis microservices. Langkah ini bertujuan untuk memfasilitasi aliran remitansi dan perdagangan yang menghubungkan Taiwan dengan Indonesia secara lebih efisien.

Dikutip dari Investortrust.id, bank pelat merah ini memanfaatkan lisensi cabang penuh di Taipei untuk menghilangkan hambatan dalam pembayaran lintas negara. Proyeksi arus remitansi yang dikelola BRI ditargetkan mencapai angka hingga 900 juta dolar AS atau setara Rp14,3 triliun per tahun.

Kehadiran BRI di Taiwan menjadi krusial karena selama puluhan tahun, pekerja migran Indonesia (PMI) menghadapi risiko tinggi saat mengirimkan uang ke tanah air. Banyak pekerja sebelumnya terpaksa mengandalkan jasa pengiriman uang informal yang rawan terhadap penipuan, pencurian, hingga kegagalan sistem pembayaran.

"Saat ini, BRI merupakan satu-satunya anggota bank milik negara (Himbara) yang beroperasi di Taiwan," ujar Direktur Utama dan CEO Grup BRI, Hery Gunardi.

Data operasional menunjukkan bahwa BRI Cabang Taipei telah berhasil meraih pangsa pasar sebesar 27,9 persen di segmen bisnis utamanya. Kinerja tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 33 persen selama periode operasional terakhir.

Volume remitansi bilateral yang difasilitasi oleh cabang tersebut mencapai sekitar 447 juta dolar AS atau Rp7,1 triliun pada semester pertama tahun 2026. Jika kecepatan transaksi ini tetap stabil, total volume remitansi BRI Taipei diproyeksikan mencapai 850 hingga 900 juta dolar AS sepanjang tahun 2026.

"Bayangkan seorang pekerja Indonesia yang tinggal di Kaohsiung harus melakukan perjalanan jauh ke Taipei hanya untuk membuka rekening bank," kata General Manager dan Kepala Cabang BRI Taiwan, Andik Kurniawan.

Untuk mengatasi kendala logistik tersebut, BRI kini mengandalkan aplikasi BRImo Taiwan yang memungkinkan nasabah melakukan pembukaan rekening dan pengiriman uang secara digital melalui ponsel. Inovasi ini merupakan bagian dari perombakan praktik rekayasa perangkat lunak yang dilakukan perusahaan sejak Maret 2025.

"Arsitektur microservices yang baru memungkinkan modul layanan individu seperti onboarding digital, kliring internasional, dan investasi untuk ditingkatkan secara independen tanpa memerlukan peningkatan aplikasi secara penuh," jelas Direktur Teknologi Informasi BRI, Saladin Dharma Nugraha Effendy.