TRENMEDIA.BIZ.ID - Pabrik garmen PT Namnam Fashion Industries yang berlokasi di Jalan Mahar Martanegara, Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat, resmi menghentikan kegiatan operasionalnya pada Senin (3/8/2026). Langkah drastis ini diambil manajemen lantaran volume pemesanan barang yang terus merosot secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dikutip dari laporan penanganan ketenagakerjaan setempat, penutupan pabrik padat karya tersebut berdampak langsung pada pemutusan hubungan kerja terhadap ratusan staf dan buruh pabrik.
Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi mengonfirmasi bahwa efisiensi total terpaksa dilakukan oleh pihak manajemen akibat tekanan operasional. Langkah penutupan tempat produksi ini memicu suasana haru di kalangan pekerja yang telah mengabdi selama bertahun-tahun.
"Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, keputusan efisiensi tersebut berdampak pada pemutusan hubungan kerja terhadap total 178 orang karyawan," kata Asep Jayadi, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi.
Pihak otoritas ketenagakerjaan daerah menyatakan bahwa keterpurukan beban finansial menjadi pendorong utama di balik keputusan penghentian aktivitas manufaktur ini.
"Pihak manajemen mengalami kerugian finansial sehingga tidak lagi sanggup memproduksi garmen, dan berencana mengalihkan jenis usahanya setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut," ujar Asep Jayadi, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi.
Penurunan volume pemesanan di industri manufaktur garmen lokal ini diakui telah berlangsung lama sebelum akhirnya menyentuh titik terendah. Tekanan biaya yang terus menumpuk membuat operasional tidak lagi berkelanjutan.
"Penurunan volume pemesanan di sektor garmen sebenarnya sudah dirasakan sejak tahun 2019 dan mencapai titik terendahnya pada tahun 2026 ini," jelas Pepet Saeful Karim, Ketua DPC SPSI Kota Cimahi.
Sorotan atas keterpurukan industri tekstil dalam negeri juga datang dari asosiasi produsen bahan baku. Masuknya pelaku usaha asing dan derasnya arus barang impor dinilai turut menyudutkan daya saing pabrikan lokal.
"Penurunan permintaan ekspor memicu masuknya sejumlah produsen asal China untuk berinvestasi dan mengisi ceruk pasar domestik dengan kapasitas yang sangat besar," kata Farhan Aqil Syauqi, Sekretaris Jenderal APSyFI.