TRENMEDIA.BIZ.ID - Penyelenggara turnamen Piala Presiden 2026 menyampaikan klarifikasi resmi terkait meluapnya kritik mengenai padatnya jadwal pertandingan. Langkah ini diambil usai pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, menyoroti minimnya waktu pemulihan fisik para pemain jelang laga krusial. Dikutip dari Detikcom, penjelasan resmi tersebut disampaikan pihak panitia pada Rabu (5/8/2026).

Igor Tolic sebelumnya mengeluhkan jeda waktu istirahat yang didapat skuad Maung Bandung kurang dari 48 jam sebelum tampil di partai puncak. Sang pelatih menilai jadwal ketat tersebut berpotensi mengganggu kebugaran pemain serta berseberangan dengan panduan FIFA yang menyarankan waktu rehat minimal 72 jam.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua 6 Bidang Administrasi Turnamen Piala Presiden, Risha Adi Wijaya, menegaskan bahwa seluruh jalannya kompetisi pramusim ini telah sesuai dengan prosedur administrasi. Ia meluruskan bahwa aturan jeda 72 jam umumnya ditujukan bagi laga antarnegara di bawah naungan resmi FIFA.

"Masa istirahat 72 jam merupakan rekomendasi FIFA untuk ajang antar federasi atau pertandingan resmi antarnegara, seperti laga Timnas Indonesia melawan negara tetangga. Aturan tersebut secara khusus berlaku pada kompetisi yang diselenggarakan langsung oleh FIFA," kata Risha Adi Wijaya.

Pihak panitia juga memastikan bahwa draf jadwal dan seluruh regulasi turnamen telah ditinjau serta mendapatkan persetujuan resmi dari konfederasi sepak bola Asia (AFC). Selain itu, sosialisasi mengenai agenda pertandingan yang padat sudah diberikan kepada manajemen klub sejak awal mula turnamen.

"Piala Presiden 2026 sudah mengantongi persetujuan dari pihak AFC setelah kami melampirkan jadwal, regulasi, dan kelengkapan administrasi. Kami juga telah menggelar sosialisasi sebanyak tiga kali kepada seluruh klub peserta, baik secara daring maupun saat manajer meeting," ujar Risha.

Sebagai solusi atas dampak mepetnya jadwal pertandingan, pihak panitia menerbitkan kebijakan khusus terkait ketersediaan pemain di lapangan. Setiap tim peserta diberikan keleluasaan untuk melakukan rotasi pemain secara lebih fleksibel sepanjang pertandingan berlangsung.

"Guna mengantisipasi ketatnya kalender laga, kami membebaskan setiap klub untuk melakukan hingga 12 kali pergantian pemain dalam satu pertandingan. Kebijakan ini dihadirkan agar pelatih dapat mengatur strategi rotasi secara maksimal demi menjaga fisik pemain," kata Risha.

Tidak hanya kuota pergantian pemain yang diperbanyak, dampak positif dari kebijakan dinamis ini juga dirasakan oleh tim-tim yang melangkah ke babak empat besar. Panitia memberikan kesempatan tambahan bagi klub peserta untuk menambah amunisi skuad mereka sebelum fase semifinal digelar.