TRENMEDIA.BIZ.ID - Langkah bisnis PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menunjukkan geliat positif pada paruh pertama tahun ini. Dikutip dari Keuangan, bank milik BUMN tersebut berhasil membukukan laba bersih hingga Rp10,8 triliun pada semester I-2026.

Capaian impresif ini mencerminkan kenaikan laba bersih sebesar 6,6 persen jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year/YoY). Keberhasilan tersebut utamanya didorong oleh rekor perolehan pre-provision operating profit (PPOP) yang menembus Rp18,5 triliun, atau melonjak 14,5 persen YoY.

Pertumbuhan kinerja perbankan tersebut berjalan sejalan dengan perolehan pendapatan bunga bersih (NII) yang mencapai Rp22,3 triliun atau naik 14,2 persen YoY. Di saat yang sama, pilar keuangan BNI makin diperkuat oleh pencapaian fee-based income yang tumbuh mencapai Rp9 triliun.

Meski mencetak deretan angka yang menggembirakan, laju pertumbuhan laba bersih BNI sempat tertahan oleh dinamika biaya operasional. Kenaikan beban pencadangan yang membengkak hingga 42,1 persen YoY menjadi penahan utama laju peningkatan laba pada periode tersebut.

"Kami menilai kinerja BNI pada semester I-2026 solid dengan rekor PPOP, pertumbuhan pendapatan yang luas, ekspansi kredit yang kuat, serta perbaikan kualitas aset," ujar Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama.

Memasuki kuartal II-2026, kompetisi dalam menghimpun dana masyarakat kian memanas sehingga memberikan tekanan pada net interest margin (NIM). Akibatnya, NIM bank only tergerus menjadi 3,6 persen dari posisi 3,8 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring naiknya biaya dana pihak ketiga menjadi 2,63 persen.

Pertumbuhan penyaluran kredit BNI sendiri sejauh ini masih didominasi oleh segmen wholesale serta pembiayaan program-program pemerintah. Di sisi lain, deposito berjangka melonjak pesat hingga 50,7 persen YoY, jauh melampaui pertumbuhan dana murah (CASA) yang hanya tumbuh 11,2 persen YoY sehingga mendorong rasio CASA turun menjadi 65,4 persen.

Perkembangan kondisi pasar dan ketatnya persaingan likuiditas tersebut direspons secara terukur oleh manajemen perseroan. BNI akhirnya mengambil langkah penyesuaian dengan merevisi target NIM untuk keseluruhan tahun 2026 menjadi berada pada kisaran 3,3 persen hingga 3,5 persen.

Prospek BNI ke depan diprediksi akan sangat bergantung pada pemulihan permintaan kredit dari sektor swasta serta monetisasi layanan perbankan digital. Selain itu, upaya penguatan dana murah dan stabilisasi biaya dana diharapkan mampu menjadi katalis utama bagi pertumbuhan bisnis.